BANGKALAN | Semangat24.com – Upaya penyelamatan naskah kuno ulama Nusantara mendapat dorongan baru. Program Studi Bahasa dan Sastra Arab Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Humaniora UIN Salatiga melakukan kunjungan resmi ke Nahdlatut Turots di Bangkalan, Jawa Timur, Selasa (28/4/2026).
Kunjungan tersebut tidak sekadar agenda akademik, melainkan bagian dari upaya serius mendalami strategi penyelamatan naskah-naskah turots, warisan intelektual Islam yang kian terancam rusak bahkan hilang.
Fokus utama diarahkan pada pelestarian karya ulama Nusantara, termasuk peninggalan Syaikhona Kholil, yang memiliki nilai historis dan keilmuan tinggi.
Sebagai tindak lanjut, kedua pihak menandatangani nota kesepahaman (MoU) yang membuka peluang kerja sama riset, magang mahasiswa, hingga publikasi ilmiah berbasis manuskrip klasik. Kolaborasi ini dinilai sebagai langkah strategis untuk menghubungkan dunia akademik dengan sumber asli keilmuan Islam.
Ketua Nahdlatut Turots, Usman Hasan Al-Akhyari, mengungkapkan bahwa upaya pelestarian naskah tidaklah mudah. Banyak manuskrip ditemukan dalam kondisi memprihatinkan.
“Kami menyusuri pesantren, makam, hingga rumah tokoh masyarakat. Banyak naskah sudah rapuh karena usia dan penyimpanan yang tidak memadai,” ujarnya.
Ia menambahkan, kondisi tersebut menjadi alarm serius bagi dunia pendidikan dan keagamaan. Tanpa intervensi cepat, khazanah intelektual ulama Nusantara berisiko hilang sebelum sempat diteliti secara mendalam.
Untuk itu, Nahdlatut Turots menerapkan standar ketat, mulai dari konservasi fisik hingga digitalisasi, guna memastikan naskah tetap lestari dan dapat diakses generasi mendatang.
Dekan FUADAH UIN Salatiga, Supardi, menilai kolaborasi ini sebagai langkah penting yang selama ini kerap terabaikan.
“Kami ingin memastikan penanganan naskah sesuai kaidah akademik. Ini bukan sekadar kerja sama, tetapi bagian dari tanggung jawab menjaga identitas bangsa melalui literasi ulama,” katanya.
Meski demikian, tantangan besar masih membayangi. Minimnya kesadaran kolektif terhadap pentingnya manuskrip kuno serta keterbatasan sumber daya dinilai menjadi hambatan utama dalam pelestarian.
Kolaborasi ini diharapkan menjadi titik awal gerakan yang lebih luas. Tanpa langkah konkret dan berkelanjutan, warisan intelektual yang menjadi fondasi pemikiran Islam moderat di Indonesia dikhawatirkan perlahan hilang ditelan zaman.(ZD)







